Menikmati Lautan juga Mendaki Gunung Anak Krakatau

posted on 26 Sep 2015 16:14 by gurugayahidupbaru
Di terminal Kampung Rambutan, terlihat sejumlah pemuda-pemudi dengan tas punggung warna-warni asyik bercengkerama. Salah satunya adalah saya. Kami merindukan bus malam yang akan membawa kita ke pelabuhan Merak. Tujuan liburan kami kali ini adalah Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda.

Masih banyak yang menyebutnya sebagai paket wisata gunung krakatau, padahal Krakatau sudah meletus beserta hebatnya pada tahun 1883 hingga mengikat kurang lebih 36. 000 jiwa. Saat tersebut, seluruh dunia diselimuti suasana yang jahanam dan mencekam. Taklimat letusannya terdengar hingga 4600 kilometer jauhnya, semburan debu vulkaniknya mencapai 80 meter dan muntahan karang vulkaniknya berhamburan di Sri Lanka, India, Pakistan, Australia serta Selandia Baru.

Dari segi sejarawan, Gunung Krakatau pun masih punya "ibu" yaitu Gunung Krakatau Purba (Gunung Batuwara) yang begitu meletus memisahkan pulau Jawa dan Sumatera. Tepi-tepi kawah Krakatau Purba dikenal beserta Pulau Rakata, Darat Panjang dan Pulau Sertung.



Kami bertambah menuju pelabuhan Merak dari terminal Pedalaman Rambutan dengan bertambah bus yang ongkosnya 17. 000 rupiah (sebelum bbm naik) pukul 23. 50 dan tiba pukul 4. 10 subuh. Tungpeng selaku ketua rombongan langsung menunjukkan kami semua ke loket kapal ASDP dan menyeberang ke Bakauheuni, Lampung.

Selama masa 2, 5 weker perjalanan laut, kami hanya duduk berlabun-labun di dek kapal sambil makan cemilan dan menikmati hembusan angin laut. Saking asyiknya, tidak berasa langit sudah tegas dan tahu-tahu kulit sudah tiba dalam Lampung.

Turun mulai kapal, kami tepat mencari angkot buat disewa ke dermaga Canti, tempat dimana kami akan dijemput oleh kapal kayu mengeksplor kawasan Anak Krakatau. Karena lapar, kami sempat mundur di tengah-tengah pengembaraan untuk makan awal di sebuah warung nasi dan meresap jalan lagi.

Matahari belum tinggi ketika kami tiba dalam dermaga Canti. Jam menunjukkan pukul 7. 40. Terlihat bahtera kayu yang kita sewa sudah menyukai.

Harga sewa bahtera kayu ini kira-kira 2-2. 5 juta per kapal dgn maksimal penumpang 20 orang. Ketika diberitahu bahwa nanti dalam perjalanan menuju Daratan Sebesi (tempat kita menginap) kami bakal snorkeling di korong Pulau Sebuku, segenap langsung bergegas di kamar mandi & berganti baju renang. Sehingga ketika kami sampai di Sebuku, semuanya siap nyebuuuuuurrrr....

Berpapasan dengan suku lokal yang sedang menyeberang dari Sebesi menuju Dermaga Canti. Motor juga diangkutnya pakai kapal ini. Saking ramahnya mereka melambaikan tangan.

Plong bermain air di Sebuku yang biru, kapal bertolak menunjukkan pulau Sebesi. Aku langsung diantarkan di guest house milik Pemerintah daerah serta dibagi dua bulan, perempuan dan pria. Satu kamar bisa menampung 10-20 orang2 dengan tarif 200 ribu per silam. Kalau musim rekreasi, rumah-rumah penduduk saja disewakan untuk wisatawan. Oh ya, listrik hanya hidup dari jam 06. 00 sore hingga 00. 00 WIB.

Comment

Comment:

Tweet